Di pesisir Desa Kelapatipati Laut, aroma khas fermentasi udang segar menjadi pertanda aktivitas tradisional yang terus dijaga turun-temurun: pembuatan Cencaluk. Makanan khas berbahan dasar udang kecil ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan kuliner Melayu, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi Kelompok Nelayan Usaha Bersama yang berdiri di desa tersebut.
Proses pembuatan Cencaluk dimulai dengan pemilihan udang segar hasil tangkapan nelayan setempat. Udang dicuci bersih, kemudian ditiriskan hingga kering sempurna. Setelah itu, udang dicampur dengan garam dan gula dalam takaran tertentu untuk memulai proses fermentasi alami. Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan dibiarkan selama beberapa hari, hingga menghasilkan cita rasa gurih dan aroma khas yang menjadi daya tarik utama Cencaluk.
Kegiatan produksi ini tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi melalui kerja sama kelompok yang terorganisir. Kelompok Nelayan Usaha Bersama membagi peran, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran. Dengan pola kerja gotong royong, mereka mampu meningkatkan jumlah produksi dan menjaga konsistensi kualitas.
Selain menjadi produk konsumsi lokal, Cencaluk dari Desa Kelapatipati Laut kini mulai merambah pasar yang lebih luas berkat kemasan yang lebih modern dan pemasaran berbasis media sosial. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pendampingan oleh perguruan tinggi, membantu kelompok nelayan ini mengembangkan inovasi tanpa meninggalkan cita rasa asli.
Melalui kegiatan pembuatan Cencaluk, masyarakat nelayan di Desa Kelapatipati Laut tidak hanya melestarikan warisan kuliner leluhur, tetapi juga memperkuat perekonomian desa. Cencaluk bukan sekadar lauk pendamping nasi, tetapi juga simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang patut dijaga.


